Pengantar Falsafah Adatgama

Adab sangat tidak asing didengar maupun diucapkan. Kita mendengar kata adab ini dari berbagai lintas generasi, baik dari anak-anak, remaja, maupun orang tua. Akan tetapi sangat sedikit kita mengerti bahkan memahami tentang maksud dari adab itu sendiri.    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologi adab memiliki pengertian sebagai ucapan dan perbuatan terpuji. ucapan merupakan suatu metode dalam berkomunikasi untuk memperoleh suatu output untuk saling mengerti. sementara perbuatan ditujukan untuk lebih saling memahami. Antara ucapan dan perbuatan juga telah diajarkan dalam falsafah Metu Telu. 

    Metu Telu merupakan falsafah hidup yang berkembang sejak lama di Desa Sapit. ketika berbicara tentang falsafah ini, kita tidak akan terlepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam Islam. Setiap agama mengajarkan untuk selalu berbuat baik antar sesama begitu juga dengan Islam, metu telu mengajarkan kita tentang bagaimana cara untuk berbuat baik. Ada tiga konsep dasar yang harus dijaga keseimbangannya dalam falsafah metu telu yaitu perkataan, perbuatan, dan prasangka/persangkaan.

    Perkataan memiliki output merusak, memelihara, dan memperbaiki, ketiga sifat tersebut merupakan pilihan. Salah dalam menerapkan metode dan tatanan dalam setiap kata maka salah juga outputnya. Metu Telu mengajarkan agar dalam setiap kata yang diucapkan sedikit namun sangat mendalam maknanya, jelas maksudnya, dan tepat sasarannya baik dalam kondisi normal, senang, maupun ketika marah tutur bahasanya tetap sama.

     Perbuatan outputnya sama dengan perkataan, tetapi, perbuatan memiliki suatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh perkataan yaitu perbuatan dapat berbicara tanpa dapat didengar atau disebut juga dengan bahasa tubuh (gestur). bahasa tubuh merupakan suatu kejujuran mutlak yang tidak dapat direkayasa tentang kebenarannya. Mengapa demikian, hal ini terjadi dikarenakan gerak tubuh kita sangat berkaitan dengan bagaimana suasana lalu lintas jiwa kita. Oleh karena itu, antara perbuatan dan prasangka/persangkaan pada dasarnya memiliki frekuensi yang sama didalam dimensi yang berbeda. Namun tetap menjadi satu kesatuan yang utuh yang dipisahkan oleh antara (iman).

Prasangka/persangkaan……. (Pembahasan terpisah)